Profil

Kamis, 14 Juli 2016

MAKALAH KAJIAN IPS DI SD Tentang MASALAH PENDIDIKAN DI DAERAH TERPENCIL



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Wilayah Indonesia terdiri atas ribuan pulau dan memiliki beragam suku bangsa dengan kekayaan adat yang berbeda-beda. Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga jika di kaitkan dengan pendidikan, hanya pendidikan di wilayah atau daerah yang dapat di jangkau pemerintah pusat dan pemerintah daerah sajalah yang di perhatikan, sedangkan pendidikan di daerah-daerah terpencil terabaikan atau tidak mendapat perhatian. Akibatnya masyarakat di daerah terpencil kurang atau bahkan tidak pernah merasakan bangku pendidikan yang sempurna, selayaknya masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan.

            Kondisi ini mengisyaratkan bahwa orang-orang dari kelompok ekonomi rendah atau orang-orang di terpencil tidak diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah yang layak mereka tidak berdaya untuk mengikuti perkembangan pendidikan dan teknologi yang dinamis karena tereleminasi oleh tidak adanya pemeratan pendidikan di Indonesia.
            Kebanyakan pemerintah hanya mengutarakan janji-janji untuk meningkatkan kualitas pendidikan terkhususnya di daerah terpencil, namun kenyataannya masih banyak sekolah-sekolah di daerah terpencil yang sarana dan prasarana pendukung jalannya proses pembelajaran tidak layak untuk digunakan. Misalnya  atap sekolah yang sudah hampir roboh, dinding sekolah yang sudah retak, meja dan bangku yang di gunakan peserta didik hampir patah, serta kurangnya tenaga pengajar.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian pendidikan?
2.      Apa saja masalah pokok pendidikan?
3.      Apa saja masalah pendidikan di daerah terpencil?
4.      Bagaimana solusi mengatasi masalah pendidikan di daerah terpencil?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan.
2.      Untuk mengetahui masalah pokok pendidikan.
3.      Untuk mengetahui masalah pendidikan didaerah terpencil.
4.      Untuk mengetahui sosusi mengatasi masalah pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan
            Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang (UU R.I. No. 2 Tahun 1989, Bab I, Pasal I). Pada rumusan ini terkandung empat hal yang perlu digaris bawahi dan mendapat penjelasan lebih lanjut. Dengan “usaha sadar” dimaksudkan, bahwa pendidikan diselenggarakan berdasarkan rencana yang matang, mantap, jelas, lengkap, menyeluruh, berdasarkan pemikiran rasional-objektif. Pendidikan tidak diselenggarakan secara tak sengaja, atau bersifat insidental dan seenaknya, atau berdasarkan mimpi di siang bolong dan penuh fantastis.
            Fungsi pendidikan adalah menyiapkan peserta didik. “Menyiapkan” diartikan bahwa peserta didik pada hakikatnya belum siap, tetapi perlu disiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri. Hal ini menunjuk pada proses yang berlangsung sebelum peserta didik itu siap untuk terjun ke kancah kehidupan yang nyata. Penyiapan ini dikaitkan dengan kedudukan peserta didik sebagai calon warga negara yang baik, warga bangsa dan calon pembentuk keluarga baru, serta mengemban tugas dan pekerjaan kelak di kemudian hari.
            Strategi pelaksanaan pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan bimbingan, pengajaran dan / atau latihan. Bimbingan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan, arahan, motivasi, nasihat dan penyuluhan agar siswa mampu mengatasi, memecahkan masalah, menanggulangi kesulitan sendiri. Pengajaran adalah bentuk kegiatan di mana terjalin hubungan interaksi dalam proses belajar dan mengajar antara tenaga kependidikan (khususnya guru / pengajar) dan peserta didik untuk mengembangkan perilaku sesuai dengan tujuan pendidikan. Pelatihan prinsipnya adalah sama dengan pengajaran, khususnya untuk mengembangkan kerampilan tertentu.
            Produk yang ingin dihasilkan oleh proses pendidikan adalah berupa lulusan yang memiliki kemampuan melaksanakan peranan-peranannya untuk masa yang akan datang. Peranan bertalian dengan jabatan dan pekerjaan tertentu, tentunya bertalian dengan kegiatan pembangunan di masyarakat. Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungai secara dekat dalam kehidupan masyarakat. Pengajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dan perubahan itu dapat tercapai sebagaimana yang diinginkan.
Di Indonesia dikenal tiga jenis pendidikan yaitu :
1.      Pendidikan formal
      Pendidikan formal yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan di sekolah ini secara micro diartikan sebagai kelanjutan pendidikan keluarga, karena tanggung jawab utama keluarga pada segi kehidupan. Sedang arti pendidikan di sekolah secara macro adalah pendidikan berwawasan kepada masyarakat dan negara.

2.      Pendidikan informal
Pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

3.      Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yaitu jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
            Pendidikan nasional yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa diselenggarakan secara menyeluruh dan diarahkan pada peningkatan kualitas serta pemerataan pendidikan. Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan keterampilan di semua jenis dan jenjang pendidikan yang diselenggarakna oleh pemerintah terus dikembangkan secara merata diseluruh tanah air dengan memberikan perhatian khusus kepada peserta didik yang berasal dari keluarga kurang mampu, penyandang cacat, serta  yang bertempat tinggal di daerah terpencil. Tidak ada alasan pemerintah untuk tidak menggalakkan pemerataan pendidikan kepada setiap warga negara tampa harus terhalang oleh berbagi faktor, seperti adanya kesenjangan ekonomi, letak daerah, dan faktor lainnya, terlebih lagi bila dikaitkan dengan adanya kesetidak imbangan pelayanan pendidikan bagi masyrakat desa dan perkotaan.

B.     Masalah Pokok Pendidikan
            Adapun permasalahan umum yang sering terjadi dalam dunia pendidikan sebagai berikut:
1.      Pemerataan Pendidikan
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pemerataan berasal dari kata dasar rata, yang berarti: 1) meliputi seluruh bagian, 2) tersebar kesegala penjuru, dan 3) sama-sama memperoleh jumlah yang sama. Sedangkan kata pemerataan berarti proses, cara, dan perbuatan melakukan pemerataan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemerataan pendidikan adalah suatu proses, cara dan perbuatan melakukan pemerataan terhadap pelaksanaan pendidikan, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan pelaksanaan pendidikan.
            Pelaksanaan pendidikan yang merata adalah pelaksanaan program pendidikan yang dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk dapat memperoleh pendidikan. Pemerataan dan perluasan pendidikan atau biasa disebut perluasan kesempatan belajar merupakan salah satu sasaran dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan tersebut tidak dapat dibedakan menurut  jenis kelamin, status sosial, agama, suku dan ras, maupun letak lokasi geografis.
            Dalam propernas tahun 2000-2004 yang mengacu kepada GBHN 1999-2004 mengenai kebijakan pembangunan pendidikan pada poin pertama menyebutkan “Mengupayakan perluasan dan pemeraatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya Manusia Indonesia berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan secara berarti‘‘. Dan pada salah satu tujuan pelaksanaan pendidikan Indonesia adalah untuk  pemerataan kesempatan mengikuti pendidikan bagi setiap warga negara.
            Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa Pemerataan Pendidikan merupakan tujuan pokok yang akan diwujudkan. Jika tujuan tersebut tidak dapat dipenuhi, maka pelaksanaan pendidikan belum dapat dikatakan berhasil. Hal inilah yang menyebabkan masalah pemerataan pendidikan sebagai suatu masalah yang paling rumit untuk ditanggulangi.
            Permasalahan pemerataan dapat terjadi karena kurang terorganisirnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan hingga daerah terpencil sekalipun. Hal ini menyebabkan terputusnya komunikasi antara pemerintah pusat dengan daerah. Selain itu masalah pemerataan pendidikan juga terjadi karena kurang berdayanya suatu lembaga pendidikan untuk melakukan proses pendidikan, ini bisa terjadi karena kontrol pendidikan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah tidak menjangkau daerah-daerah terpencil. Sehingga hal ini akan mengakibatkan mayoritas penduduk Indonesia yang dalam usia sekolah, tidak dapat mengenyam pelaksanaan pendidikan yang sempurna sebagaimana yang diharapkan.
            Permasalahan pemerataan pendidikan dapat ditanggulangi dengan menyediakan fasilitas dan sarana belajar bagi setiap lapisan masyarakat yang wajib mendapatkan pendidikan. Pemberian sarana dan prasrana pendidikan yang dilakukan pemerintah sebaiknya dikerjakan setransparan mungkin, sehingga tidak ada oknum yang dapat mempermainkan program yang dijalankan tersebut.

2.      Mutu dan Relevansi Pendidikan
            Mutu sama halnya dengan memiliki kualitas dan bobot. Jadi pendidikan yang bermutu yaitu pelaksanaan pendidikan yang dapat menghasilkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan negara dan bangsa pada saat ini. Sedangkan relevan berarti bersangkut paut, kait mangait, dan berguna secara langsung.
            Sejalan dengan proses pemerataan pendidikan, peningkatan mutu untuk setiap jenjang pendidikan melalui persekolahan juga dilaksanakan. Peningkatan mutu ini diarahkan kepada peningkatan mutu masukan dan lulusan, proses pembelajaran, guru, sarana dan prasarana, serta anggaran yang digunakan untuk menjalankan pendidikan.
            Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor terpenting yang mempengaruhinya adalah mutu proses pembelajaran yang belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas. Hasil-hasil pendidikan juga belum didukung oleh sistem pengujian dan penilaian yang melembaga dan independen sehingga mutu pendidikan tidak dapat dimonitor secara objektif dan teratur. Uji banding antara mutu pendidikan suatu daerah dengan daerah lain belum dapat dilakukan sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga hasil-hasil penilaian pendidikan belum berfungsi untuk penyempurnaan proses dan hasil pendidikan.
            Selain itu, kurikulum sekolah yang terstruktur dan bersyarat menjadikan proses belajar menjadi kaku dan tidak menarik. Pelaksanaan pendidikan seperti ini tidak mampu memupuk kreatifitas siswa untuk belajar secara efektif. Sistem yang berlaku pada saat sekarang ini juga tidak mampu membawa pendidik untuk melakukan pembelajaran serta pengelolaan belajar menjadi lebih inovatif.
            Akibat dari pelaksanaan pendidikan tersebut adalah menjadikan sekolah cenderung kurang fleksibel dan tidak mudah berubah seiring dengan perubahan waktu dan masyarakat. Pada pendidikan tinggi, pelaksanaan kurikulum ditetapkan pada penentuan cakupan materi yang ditetapkan secara terpusat, sehingga perlu dilaksanakan perubahan kearah kurikulum yang berbasis kompetensi, dan lebih peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan juga disebabkan oleh rendahnya kualitas tenaga pengajar. Penilaian dapat dilihat dari kualifikasi belajar yang dapat dicapai oleh guru dan dosen tersebut. Dibanding negara berkembang lainnya, maka kualitas tenaga pengajar pendidikan tinggi di Indonesia memiliki masalah yang sangat mendasar. Melihat permasalahan tersebut, maka dibutuhkanlah kerja sama antara lembaga pendidikan dengan berbagai organisasi masyarakat. Pelaksanaan kerja sama ini dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dapat dilihat jika suatu lembaga tinggi melakukan kerja sama dengan lembaga penelitian atau industri, maka kualitas dan mutu dari peserta didik dapat ditingkatkan, khususnya dalam bidang akademik seperti  tekonologi industri.

3.      Efisiensi dan Efektifitas Pendidikan
            Sesuai dengan pokok permasalahan pendidikan yang ada selain sasaran pemerataan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan, maka ada satu masalah lain yang dianggap penting dalam pelaksanaan pendidikan yaitu efisiensi dan efektifitas pendidikan. Permasalahan efisiensi pendidikan dipandang dari segi internal pendidikan, maksud dari efisiensi adalah apabila sasaran dalam bidang pendidikan dapat dicapai secara efisien atau berdaya guna. Artinya pendidikan akan dapat memberikan hasil yang baik dengan tidak menghamburkan sumber daya yang ada seperti uang, waktu, tenaga dan sebagainya.
            Pelaksanaan proses pendidikan yang efisien adalah apabila pendaya gunaan sumber daya seperti waktu, tenaga dan biaya tepat sasaran, dengan lulusan dan produktifitas pendidikan yang optimal. Sekarang ini, pelaksanaan pendidikan di Indonesia jauh dari efisien, dimana pemanfaatan segala sumber daya yang ada tidak menghasilkan lulusan yang diharapkan. Contohnya saja banyak pengangguran di Indonesia dikarenakan kualitas dan mutu pendidikan yang telah mereka peroleh. Pendidikan yang mereka peroleh tidak menjamin mereka untuk mendapat pekerjaan sesuai dengan jenjang pendidikan yang mereka jalani.
            Pendidikan yang efektif adalah pelaksanaan pendidikan dimana hasil yang dicapai sesuai dengan rencana atau program yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika rencana belajar yang telah dibuat oleh dosen dan guru tidak terlaksana dengan sempurna, maka pelaksanaan pendidikan tersebut tidak efektif.
            Tujuan dari pelaksanaan pendidikan adalah untuk mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sedini mungkin, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya.  Dari tujuan tersebut, pelaksanaan pendidikan Indonesia menuntut untuk menghasilkan peserta didik yang memeiliki kualitas SDM yang baik untuk menghadapi segala perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar atau pun dunia. Ketidakefektifan pelaksanaan pendidikan tidak akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Melainkan akan menghasilkan lulusan yang tidak diharapkan. Keadaan ini akan menghasilkan masalah lain seperti pengangguran.
            Penanggulangan masalah pendidikan ini dapat dilakukan dengan peningkatan kulitas tenaga pengajar. Jika kualitas tenaga pengajar baik, bukan tidak mungkin akan meghasilkan lulusan atau produk pendidikan yang siap untuk menghadapi dunia kerja. Selain itu, pemantauan penggunaan dana pendidikan dapat mendukung pelaksanaan pendidikan yang efektif dan efisien. Kelebihan dana dalam pendidikan lebih mengakibatkan tindak kriminal korupsi dikalangan pejabat pendidikan. Pelaksanaan pendidikan yang lebih terorganisir dengan baik juga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pendidikan. Pelaksanaan kegiatan pendidikan seperti ini akan lebih bermanfaat dalam usaha penghematan waktu dan tenaga.

C.    Masalah Pendidikan di Daerah Terpencil di Indonesia
            Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting untuk perkembangan suatu negara. Pendidikan menyiapkan sumber daya manusia yang nantinya akan meneruskan dan memajukan suatu negara. Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), namun sumber daya alam itu akan sia-sia atau tidak dapat di manfaatkan sebaik mungkin jika Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki tidak dapat dipergunakan untuk mengelolah SDA yang ada. Pembentukan atau penciptaan sumber daya manusia yang bermutu tergantung pada sistem dan penerapan pendidikan. Di Indonesia masih banyak masalah-masalah mengenai pendidikan yang belum bisa diselesaikan terutama di daerah-daerah terpencil.
            Berikut ini adalah masalah pendidikan di daerah-daerah terpencil di Indonesia:
1.      Rendahnya sarana dan prasarana fisik di  Indonesia
            Sekarang ini masih banyak kasus sekolah-sekolah yang tidak layak pakai, misalnya saja atap sekolah yang sudah hampir roboh, dinding sekolah yang sudah retak, meja dan bangku yang di gunakan peserta didik hampir patah. Hal ini sangat ironis bila melihat anggaran pendidikan yang ada di Indonesia sekarang ini jauh melebihi cukup untuk  mendukung sarana dan prasarana di sekolah-sekolah untuk menjadikan sekolah-sekolah khususnya di daerah terpencil menjadi lebih baik dan sempurna.
            Permasalahan lainnya adalah kurangnya ketersediaan alat-alat dan sarana yang mendukung pendidikan seperti perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah dan ruang kelas yang cukup. Sementara untuk Ujian Nasional pemerintah pusat menuntut agar nilai-nilai yang di capai harus sesuai dengan yang di tentukan, bagaimana peserta didik di daerah  terpencil bisa atau sanggup untuk mencapai nilai-nilai yang telah di tentukan pemerintah  pusat sedangkan sarana dan prasarana pendidikan mereka tidak mendukung.

2.      Kurangnya pemerataan pendidikan di Indonesia
            Tidak semua daerah di Indonesia memiliki gedung sekolah, pengajar, dan sarana pendidikan yang sama. Maksudnya adalah dari segi kualitas dan kuantitasnya. Bagi sebagian orang pendidikan merupakan hal yang biasa, namun berbeda dengan orang-orang yang tinggal di daerah terpencil di Indonesia, pendidikan merupakan kebutuhan yang mewah dan sangat berharga. Hal ini dikarenakan untuk mencukupi atau bisa mengenyam pendidikan di perlukan biaya yang mahal karena di daerah tersebut sekolah masih sedikit atau jarang. Hal ini karena sistem yang ada di Indonesia memfokuskan pendidikan di wilayah-wilayah yang potensial saja atau di wilayah-wilayah yang dapat di jangkau pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini yang kemudian mengakibatkan kesenjangan di dalam pendidikan itu sendiri dan membuat dunia pendidikan di Indonesia semakin memburuk.
            Selain itu, kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat sekolah dasar (SD) karena hanya tingkat pendidikan itu sajalah yang tersedia di daerah-daerah terpencil. Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas, karena  kegagalan pembinaan usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerintah dalam pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan pendidikan agar  pendidikan di Indonesia tidak  semakin memburuk.

3.      Masih rendahnya kesejahteraan guru
            Salah satu bagian penting yang berperan dalam kemajuan pendidikan didaerah terpencil  adalah guru, kesejahteraan guru berdampak pada mutu pengajaran yang ada. Sekarang ini masih banyak guru yang mengabdikan dirinya di daerah terpencil yang dibayar dengan upah yang kurang layak bahkan sama sekali tidak mendapat upah. Meskipun banyak anggapan profesi guru merupakan profesi yang enak namun banyak guru di Indonesia khususnya di daerah terpencil yang masih menerima gaji yang tidak sesuai, apa lagi guru honorer dan guru bantu. Akibatnya para guru kurang bersemangat dalam mengajar, datang dan pulang sekolah seenaknya. Ada juga yang menjalani profesi sampingan seperti memberi les pada sore hari, mengajar di sekolah lain, pedagang buku/LKS, dan sebagainya. Akhirnya nasib peserta didik terabaikan.
4.      Rendahnya prestasi siswa
            Prestasi siswa sangat menentukan kemajuan dan mutu pendidikan di Indonesia. Namun yang sangat disayangkan terjadi sekarang ini adalah rendahnya prestasi yang diraih pelajar Indonesia. Masih kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan adalah faktor utama, kurangnya semangat belajar dan juga budaya mencontek,
            Rendahnya prestasi siswa di daerah terpencil juga disebabkan  karena sarana dan prasarana yang tidak mendukung. Mulai dari tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang tidak layak di gunakan, serta kurangnya kesejahteraan guru yang memberi dampak besar bagi peserta didik.

D.    Solusi untuk Mengatasi Masalah Pendidikan di Daerah Terpencil
            Adapun solusi dari masalah pendidikan di Indonesia terutama di daerah terpencil sebagai berikut:

1.      Rendahnya sarana dan prasarana fisik di Indonesia
            Sarana dan prasarana merupakan salah satu pendukung dalam dunia pendidikan, yang dapat membuat suatu sekolah menjadi berkualitas dan bermutu. Ruang-ruang kelas yang menjamin berjalannya proses belajar mengajar dengan baik, meja dan bangku yang layak digunakan, serta sarana dan prasarana laboratorium yang mendukung. Hal ini tentunya menjadi tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah, masyarakat dan pemerintahan harus saling mengkoreksi. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan sarana pendidikan dan memberikan anggaran yang sesuai dengan peraturan yang ada, bukan anggaran yang di peruntukkan membangun dunia pendidikan digunakan untuk hal-hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan dunia pendidikan dan justru merugikan dunia pendidikan. Dan masyarakat bertugas mengawasi agar tidak ada kecurangan atau korupsi di dalam penyaluran dana tersebut. Semua pihak harus bekerja sama untuk membuat lingkungan pendidikan yang bermutu, yang selalu ada kemajuan dari waktu-kewaktu agar pendidikan di Indonesia semakin baik dan terhindar dari keterpurukan.

2.      Kurangnya pemerataan pendidikan di Indonesia
Pemerintah harus memperbaiki sistem pendidikan yang ada, pemerintah harus melakukan pogram pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Program pemerataan pendidikan tersebut antara lain membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil, menyalurkan tenaga didik ke daerah terpencil, dan melengkapi sarana dan prasarana di daerah tersebut. Kemudian juga mengadakan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan untuk anak-anak.

3.      Masih rendahnya kesejahteraan guru
Guru merupakan acuan dalam mengajar agar peserta didiknya dapat berprestasi dengan baik di masa yang akan datang. Agar guru dapat fokus pada tugasnya, tentunya harus meningkatkan kesejahteraan guru dengan memberikan gaji dan tunjangan yang sesuai sehingga guru tidak mencari profesi lain untuk memenuhi kebutuhannya.

4.      Rendahnya prestasi siswa
Untuk meningkatkan daya kreatifan peserta didik guru harus dapat menumbuhkan semangat belajar peserta didiknya dengan metode belajar sambil bermain atau belajar yang mengasikan, dan sebagainya. Kemudian proses belajar juga harus disesuaikan dengan minat dan bakat siswa agar belajar lebih maksimal. Meningkatkan kreatifitas peserata didik juga, guru dapat memberikan apresiasi kepada hasil karya original. Tentunya semua itu dapat di wujudkan jika ada dukungan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dukungan tersebut dapat berupa melengkapi sarana dan prasarana sekolah, menambah tenaga pengajar di daerah terpencil, dan tentunya dengan meningkatkan kesejahteraan pendidik di daerah-daerah terpencil.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Agar penduduk yang tinggal di daerah perbatasan dan terpencil tidak semakin tertinggal oleh perkembangan zaman maka perlu diberikan pendidikan yang berkualitas. Karena bagaimanapun generasi-generasi muda berikutnya juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan di daerah terpencil memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di daerah-daerah yang mudah terpantau langsung oleh pemerintahan pusat maupun daerah. Hal-hal yang menyebabkan rendahnya kualitas dan mutu pendidikan di daerah terpencil di Indonesia yaitu: rendahnya sarana dan prasarana fisik, kurangnya pemerataan pendidikan, masih rendahnya kesejahteraan guru, dan juga rendahnya prestasi siswa.
            Hal-hal tersebut hanya bisa diatasi dengan adanya kerja sama antara pemerintahan dengan seluruh lapisan masyakarat untuk meningkatkan kualitas dan  mutu pendidikan di daerah terpencil, adanya perubahan paradigma dan pola pikir masyarakat, peningkatan sarana dan prasarana fisik pendidikan di daerah terpencil, pemerataan akses pendidikan, meningkatkan kesejahteraan guru, dan kesadaran dari para peserta didik untuk mencapai prestasi sebaik mungkin.

B.     Saran
            Pemerintah harus mengalokasikan dana untuk membangun sarana dan prasarana sekolah yang berada di dearah terpencil. Tidak hanya itu, kesejahteraan guru pun harus diperhatikan agar mereka termotivasi untuk dapat mengabdi di daerah terpencil dan juga meningkatkan upaya-upaya pemerataan pendidikan yang masih belum maksimal dan terus mengembangkan upaya-upaya yang telah berhasil. Masyarakat juga harus lebih aktif dalam mengawasi pendanaan dari pemerintah dan menjaga fasilitas yang sudah ada agar bisa dipakai lebih lama.


DAFTAR PUSTAKA
http:// pendidikankita.com
http://tisna-dj.blogspot.co.id/2012/11/makalah-kurangnya-pemerataan-pendidikan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar